Seuntai Harapan

seuntai harapan

Seuntai Harapan –¬†Assalamualaikum wr wb, Selamat Malam kawan-kawan dan pada kesempatan malam hari ini gue baru sempat menulis cerpen lagi yang di kutip dari kompasiana dan untuk nama cerpennya sendiri ialah Seuntai Harapan. Jadi mohon maaf kawan-kawan jika gue jangan menulis cerpen lagi :D, okey tanpa basa-basi atau banyak cincong atau banyak cakap langsung di baca aja ya cerpennya gaes ^_^.

seuntai harapan

Kudengar suara teriakan dari salah satu ruangan di rumahku, mereka terdengar mendebatkan sesuatu, sampai akhirnya pintu ruangan tersebut dan keluarlah petinggi Belanda yang terlihat marah karena pembicaraannya dengan ayahku. Saat ku masuk ke ruangan tersebut ku lihat ayahku duduk di meja kerjanya, kelihatan letih dan sedih. Akhirnya aku memutuskan untuk bertanya kepadanya. Ternyata petinggi Belanda tersebut datang karena Belanda mengetahui bahwa ayahku menentang pembangunan jalan pos dari Anyer sampai Panarukan.

Ayahku merasa bahwa rakyat di daerah kami sangat menderita karena adanya kerja paksa tersebut. Ibuku akhirnya masuk ke dalam ruangan, ia sepertinya mengerti apa yang baru terjadi. Ayah ku menatap ibuku seperti merasa bersalah karena ia tidak bisa melakukan apapun walaupun ia memimpin daerah tersebut.

Akhirnya tak kuat melihat kesedihan yang dirasakan oleh ayahku, aku memutuskan untuk mengajak salah satu temanku bermain bersama, temanku ini hanyalah anak seorang petani yang tinggal di daerah di mana ayahku memimpin. Saat ku sampai di rumahnya aku melihat beberapa petinggi Belanda berdiri di rumah temanku tersebut. Saat aku berjalan lebih dekat aku melihat bahwa teman ku beserta keluarga dituduh tidak bekerja hari itu, temanku membantah semuanya itu, walaupun tentara Belanda terus keras kepala dan menuduh mereka, Belanda menuduh ayah temanku meninggalkan pekerjaannya, ayah temanku berkata bahwa ia meninggalkan pekerjaannya hari itu karena ia merasa tidak sehat.

Akhirnya tentara – tentara Belanda mengangkat senjatanya dan mengarahkannya kepada keluarga tersebut, sang komando memberikan wewenang untuk membunuh keluarga tersebut. Ku menutup mataku dan mendengarkan suara tembakan, ku melihat temanku sekeluarga terbaring dengan darah mengelilingi mereka, teriakan ku terdengar, ku langsung menghampiri mereka, dan memeluk temanku yang tak sadarkan diri lagi.

Aku berlari sekuat tenaga ku balik ke rumah, saat ku menginjakan kaki ke halaman rumah, salah satu pegawai ayahku melihat aku dan segera bergegas ke arah ku, ku dengar ia bertanya apakah aku baik — baik saja, tetapi aku terlalu terkejut untuk berbicara apa pun dengan tangan dan bajuku berlumuran darah, aku terus berusaha untuk berjalan ke dalam rumahku, ibu ku keluar dari kamarnya saat melihat wajah ibuku, aku langsung terjatuh dan tak sadarkan diri.

Saat ku membuka mataku ku melihat ayahku dan ibuku berdiri di sampingku, segera aku berusaha untuk bangun dari tempat tidurku, ayahku dengan muka yang cemas bertanya apa yang terjadi. Tangisan ku bertambah kencang mengingat apa yang baru saja aku lihat, ayah ku bertambah bingung dengan apa yang terjadi, setelah beberapa saat aku akhirnya menceritakan kepada ayah apa yang aku saksikan tadi pagi. Aku memohon kepada ayahku untuk melakukan sesuatu agar hal seperti itu tidak terjadi kepada keluarga yang lain, ayahku hanya melihat aku dengan mata yang sedih dan berkata bahwa ia tidak bisa melakukan apa — apa, karena Belanda akan mengetahuinnya dan menghukum keluarga kita.

Setelah beberapa hari keadaaan ku semakin membaik, akhirnya dengan tekad yang bulat aku memutuskan supaya hal yang terjadi kepada temanku tidak akan terjadi kepada orang lain. Aku mengajak beberapa temanku yang lain, kami bersama membuat poster yang berisikan pendapat kami tentang Belanda dan hal — hal yang mereka lakukan di daerah kami, pada malam hari kami menempelkan poster tersebut di berbagai tempat. Pada pagi hari daerah kami membicarakan poster — poster tersebut dan maknannya.

Para tentara Belanda yang melihat poster tersebut langsung mencabut poster tersebut, Tetapi keesokan harinnya aku beserta teman — temanku memasang poster tersebut lagi, dan keseokaan harinnya poster tersebut dilepaskan lagi oleh tentara Belanda, hal tersebut berlangsung selama 7 hari sampai suatu saat dimana saat aku sedang berjalan melewati para pekerja — pekerja, salah satu pekerja di aniaya oleh tentara Belanda, tetapi pekerja itu melawan balik kepada tentara Belanda tersebut.

Hal yang terjadi tadi terdengar sampai ke ayahku, ia memanggilku masuk ke dalam ruang kerjanya, ia bertanya jika aku mengetahui apa yang terjadi pada tempat pembangunan jalan tersebut, aku berpura — pura tidak tau tetapi ayahku langsung memukul meja, ia mengetahui poster — poster yang dibuat oleh ku. Ia berkata bahwa aku telah memulai suatu hal yang susah untuk dihentikan, aku telah memberikan suatu harapan.

Kejadian tersebut terdengar sampai petinggi — petinggi Belanda, mereka terus mencari siapa yang membuat poster — poster tersebut, sampai suatu hari seorang petinggi Belanda datang ke rumah ku saat aku tidak berada di rumah. Saat ku sampai ke rumah ayahku berkata bahwa ada seorang petinggi Belanda yang tadi datang untuk berkunjung. Hari tersebut berjalan seperti biasanya.

Saat malam tiba, aku terlelap tidur di kamar ku sampai aku mendengar suara senapan, seorang pekerja ayahku berlari masuk ke dalam kamar tidurku, ia segera menarik aku sambil berbisik bahwa Belanda telah memasuki Istana, ia berkata bahwa aku harus segera pergi ke tempat persembunyian keluarga ku. Saat aku sedang berlari aku melihat mayat — mayat di lorong, aku segera berlari, saat sampai di tempat tersebut aku melihar ibuku dan ayahku yang duduk bersebelahan dengan muka khawatir saling menatap satu sama lain.

Pintu masuk ke dalam ruangan tersebut telah dikunci dari dalam dan kami hanya bisa menunggu. Suara teriakan dalam bahasa Belanda yang memberi perintah terdengar di luar pintu tersebut terdengar dengan jelas, dan terus bertambah jelas, seperti suara tersebut datang mendekati kami, akhirnya kami mendengar suara tersebut tepat di luar pintu, para tentara Belanda mencoba menendang pintu, sampai akhirnya mereka berhasil. Aku dan keluarga ku saling memandang satu sama lain dengan wajah takut.

Para tentara Belanda menembakan senjata mereka aku melihat peluru masuk ke dalam tubuh ayah dan ibuku. Aku merasakan sakit di bagian dadaku, saat aku melihat darah meresap ke bajuku aku tau bahwa aku telah tertembak. Aku terjatuh ke lantai, aku tersenyum karena aku telah membangkitkan semangat perlawanan di daerahku, walaupun itu hanya sedikit harapan, hal tersebut dapat membuat perubahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *